Minggu, 30 November 2014

Pembinaan & Pembentukan Karakter




Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller

Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter. 

Segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap. Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.
 

salam saya
Muhammad Waly

Senin, 17 November 2014

"Dari Aceh Untuk Dunia" Mengenang 10 Tahun Tsunami Gerakan Palang Merah & Bulan Sabit Merah Internasional

Peringatan
Mengenang 10 Tahun Tsunami Gerakan Palang Merah & Bulan Sabit Merah Internasional: “Dari Aceh untuk Dunia”



Genapnya 10 tahun kejadian bencana besar gempa dan tsunami Aceh-Nias, Palang Merah Indonesia (PMI) berinisiasi membuat kegiatan yang dapat memahami arti penting sejarah tersebut. Ini bisa menjadi sebuah pembelajaran, bagaimana gempa dan tsunami membawa dampak perubahan di Aceh. Jika di ambil banyak pelajaran dari hal tersebut mungkin masing-masing bidang ilmu memiliki kesimpulannya masing-masing, terkait dengan fokus bidang yang di dalami.
Sebagai sebuah bencana, gempa dan tsunami Aceh-Nias telah membawa pelajaran berarti bagi tanggap darurat, protap kebencanaan, struktur badan kebencanaan, koordinasi terkait bencana, mitigasi bencana, pembangunan infrastruktur,  yang terjadi di Indonesia dan menjadikan sebagai sebuah referensi penting serta kuat.Semua itu menjadi sebuah pelajaran berarti yang terus ditanamkan secara kuat dalam kebijakan-kebijakan yang nantinya di ambil oleh pemerintah.

PMI berhasil mempertemukan 4000 orang yang akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarganya, sementara untuk program pembangunan kembali rumah warga, PMI membantu 20.000 rumah permanen kepada 20.000 keluarga, sementara untuk air bersih serta promosi kesehatan, sejak masa tanggap darurat Aceh, sebanyak 1, 5 juta liter air disistribusikan untuk warga setiap hari, dan sebanyak 100.000 jiwa mendapatkan manfaat program promosi kesehatan berbasis masyarakat, dan PMI berhasil memberikan program livelihood kepada 17.760 orang.
Untuk itu PMI bersama pemerintah mengambil momentum ini sebagai pancang gerakan pendalaman sejarah tsunami yang nantinya akan terus melekat dalam kebijakan-kebijakan pemerintah terkait pembangunan di Aceh, agar momentum ini menjadi sebuah semangat pembangunan yang mendekatkan pada konsep pembangunan yang sesuai dengan kondisi daerah Aceh.
Kegiatan 10 tahun gempa dan tsunami ini merupakan rangkaian kegiatan pemerintah yang berpuncak di 26Desember 2014. Relawan-relawan palang merah akan terlibat dalam acara ini. Acara ini disusun sederhana, tanpa menghilangkan makna pembelajaran sejarah.
Peringatan “Mengenang 10 Tahun Tsunami: Dari Aceh untuk Dunia” merupakan bentuk apresiasi PMI terhadap kontribusi Relawan PMI dalam misi kemanusiaan di Aceh pada tanggap darurat Bencana Gempa dan Tsunami tahun 2004 yang melibatkan sekitar 200 ribu Relawan PMI. Bentuk apresiasi ini diwujudkan PMI kepada Relawan yang merupakan pahlawan kemanusiaan, sekaligus mengadakan peringatan puncak 10 tahun Tsunami Aceh pada (09-10/10) yang bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan secara Nasional di Indonesia, yang jatuh setiap tanggal 10 November.
Kegiatan yang akan dilaksanakan tanggal 9 dan 10 November 2014 ini antara lain malam obor kemanusiaan, Zikir dan Doa Bersama, Tilas Jejak Tsunami Aceh, Pameran Foto, Dan Malam Apresiasi.
Ucapan terimakasih dan apresiaasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Aceh, masayarakat dunia yang telah membantu untuk mensukseskan kegiatan ini, BRI Cabang Banda Aceh, Kodam SIM, POLDA ACEH, Bapak Gubernur Aceh yang memberikan dukungan yang begitu besar.
PMI juga memiliki agenda acara Jumbara dan Temu Karya di Nagan Raya tanggal 24 s.d 29 November 2014. Acara ini merupakan acara berkumpulnya relawan-relawan palang merah se Aceh dan Sumatra.
Panitia juga akan mengundang relawan-relawan, perwakilan-perwakilan asing yang pernah dan terlibat dalam membantu pasca gempa dan tsunami Aceh-Nias. Semoga dengan hadirnya mereka juga dapat menjadi pelajaran bagi mereka sendiri dan menjadikan Aceh referensi untuk negaranya. Aceh dulu pernah mereka bantu, kini Aceh membuka gerbang selebar-lebarnya bagi dunia untuk belajar di Aceh. Untuk itu kegiatan ini akan mengusung tema “ Dari Aceh Untuk Dunia”.